Senin, 05 Maret 2018

rebirth














Selamat malam,
hampir 2 tahun ini saya jarang berinterak
si dengan blog saya, baik sekedar melihat postingan saya atau menerbitkan konten baru. Banyak kegiatan yang akhirnya membuat saya sedikit melupakan blog saya, salah satunya adalah kesibukan bekerja serta belajar menjadi seorang ayah bagi putri saya. Selanjutnya, posting ini saya buat untuk menyapa lagi, semoga bisa membagi waktu dan bisa lebih produktif.

silakan menyapa saya di Instagram @lulusandika serta @inimadura


Rabu, 04 Oktober 2017

Naik Gunung Instan

Mendaki gunung identik dengan kegiatan yang menguras tenaga. Pendaki mesti berjalan menanjak melewati jalanan berkelok sambil membawa tas berisi bekal atau perlengkapan berkemah. Namun, kelelahan terbayar dengan pemandangan alamat yang indah ditambah bonus jika sanggup hingga puncaknya. Aktifitas pendakian tidak bisa dilakukan sembarangan, butuh persiapan dan latihan.

Namun realita yang terjadi di beberapa tempat sangatlah berbeda. Aktifitas pendakian yang ada di bayangan saya ternyata jauh tidak sama. Contohnya adalah beberapa puncak kawah gunung di pulau Jawa, ternyata sudah menjadi objek wisata dengan jumlah pengunjung cukup tinggi. Seperti kawah Ijen, Dieng, atau Tangkuban Perahu.

Jaman semakin maju, naik gunung akhirnya semakin mudah. Bahkan sudah ada jalan beraspal nyaris ke puncak gunung. Alhasil pendaki bisa memakai kendaraan supaya tidak capek. Namun, segala kemudahan ini membuat pengunjung cenderung semakin manja dan tidak tertib. Esensi pendakian gunung menjadi hilang dan bisa dilakukan siapa saja. Terlebih semakin banyak sampah berserakan karena merasa mudah membawanya lalu mudah membuangnya.

Tangkuban perahu menjadi puncak kawah ketiga yang pernah saya kunjungi, sebelumnya adalah kawah Ijen dan Dieng. Sayang, kali ini saya berkunjung diwaktu yang tidak tepat, Tangkuban Perahu berkabut. Berbagai perlengkapan fotografi yang saya bawa menjadi tidak maksimal karena tidak bisa memotret kawah Tangkuban Perahu. Selain kabut tebal, hujan gerimis membuat hunting foto saya menjadi kurang puas.

Senin, 02 Oktober 2017

Surabaya - Bandung

Minggu kemarin menjadi pengalaman pertama bagi saya menaiki gerbong eksekutif. Perjalanan Surabaya menuju Bandung saya tempuh dengan kereta eksekutif Turangga. Jujur, saya memang belum pernah bekereta api jarak jauh, paling jauh hanya sampai Jogja. Namun, paling sering adalah touring dengan motor.

Berangkat dari stasiun Gubeng menjelang malam, bisa dipastikan jika perjalanan saya menuju Bandung dihabiskan semalaman. Jam tiba yang tertera di tiket adalah pukul 5 pagi, jadi kurang lebih 12 jam waktu yang dibutuhkan. Mungkin ini adalah jarak tempuh nonstop terlama yang pernah saya lakukan.

Gerbong eksekutif jelas memang berbeda jika dibandingkan dengan gerbong ekonomi. Paling jelas terlihat pada susunan bangku penumpangnya. Lega, itulah yang bisa saya simpulkan. Saya sendiri berada dibangku baris 7D, berada di dekat jendela. Cukup nyaman karena kaki bisa selonjoran tanpa halangan.

Oke, kereta berangkat tepat waktu, pukul 16. 30. Pengalaman pertama yang saya rasakan adalah kenyamanan bangku yang empuk. Saya bisa mengatur sandaran saya, tegak atau sedikit rebahan, dan itu sama sekali tidak menggangu penumpang di belakang saya. Kenyamanan bangku ditambah pemandangan di luar jendela menambah sensasi naik gerbong eksekutif.

Namun, malam akhirnya datang, alhasil pemandangan di luar kereta menjadi gelap. Sesekali lampu jalan terlihat remang karena kereta melaju cepat. Sesekali lampu perlintasan kereta terlihat ketika kereta melintas. lama-lama saya merasa bosan, pemandangan yang monoton. Demi mengobati kebosanan akhirnya memutuskan mengulik gadget saya. memang sejak awal saya berniat menaruh gadget saya untuk menikmati sensasi berkereta, namun apa daya rasa bosan terus mendera. Gadget dalam tas akhirnya saya raih.

Sesekali melihat ke arah jendela, saya juga melihat ke TV yang disediakan. Sayangnya, tv yang cukup besar ini hanya menayangkan tayangan yang tidak mampu mengobati kebosanan saya. Akhirnya, game dalam gadget menjadi solusinya. Namun, ternyata saya salah mengunduh game, karena game yang saya unduh termasuk game online, dan kartu seluler saya tidak cukup baik mengcover kecepatan data.

Ternyata saya menyimpan unduhan film dalam kartu memori gadget saya. Untung, lumayan sambil merasakan hentakan kereta saya bisa menonton film. Kali ini film yang saya unduh adalah salah satu film yang bintangi oleh Antonio Banderas, film ini merupakan remake. Kurang lebih hampir 2 jam saya fokus ke depan layar gadget, bahkan tidak peduli ketika ada pramugara menawarkan minuman hangat.

Film berakhir, saya mulai tersadar kereta sudah hampir sampai Madiun. Beruntung, sinyal 4G gadget saya mulai tampak, akhirnya mulai browsing di media sosial. Saya pikir kantuk akan datang lebih awal, sayang tidak kunjung mengantuk. Sementara rekan di samping saya ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika kereta telah memasuki Jogja.

Yap, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan menuju gerbong restorasi, mencoba restorasi kelas eksekutif. Perjalanan menuju gerbong restorasi ternyata cukup sulit, jalan menjadi sempoyongan karena goyangan gerbong. Namun, justru menjadi pengalaman menarik bagi saya.

Sesampainya di gerbong restorasi, saya memesan kopi hitam. Bersama rekan di samping bangku saya tadi, saya mulai mengobrol menghabiskan waktu. Sembari mengulik gadget, saya mengobrol dengan penumpang lain yang berbagi bangku restorasi. Ternyata tidak cuma saya yang merasa bosan, ada yang lain juga.

Kurang lebih hampir satu jam saya habiskan di gerbong restorasi. Akhirnya rasa kantuk mulai datang, saya memutuskan kembali ke gerbong saya. Kebetulan kereta berhenti di stasiun Tugu Jogja. Dalam arah kembali ke gerbong ternyata banyak penumpang yang berada di luar gerbong saat kereta berhenti di stasiun. Mereka mengambil kesempatan untuk merokok. Memang di dalam gerbong penumpang dilarang merokok, jika tertangkap  konsekuensi nya adalah diturunkan paksa.

Kembali ke bangku 7D, sayang saya tidak jadi tidur. Tiba-tiba rasa kantuk hilang, mengulik gadget kembali menjadi cara mengatasi kebosanan. Hingga sekitar pukul 1 malam tak terasa mata sudah agak berat, akhirnya saya tertidur.

Pukul 4 subuh saya terbangun, ketika kereta memasuki stasiun Cipendeuy. Satu jam lagi kereta akan tiba ke tujuan. Benar, tidak berapa lama kereta telah sampai ke tujuan, yakni stasiun Bandung.

Jumat, 20 Maret 2015

Neverending Bromo

Bulan februari ini merupakan kunjungan ke 7 saya ke gunung bromo. Namun, sperti tidak ada bosannya menikmati pemandangan alam gining bromo dan sekitarnya. Segala sudutnya menawarkan keindahannya tersendiri. Baik dari pemandangan alamanya hingga kehidupan manusia di sekitarnya.
Kunjungan saya sebelumnya memang hanya tertuju pada kawah bromo untuk didaki. Memang spot inilah yang menjadi pusat dari segala foto tentang bromo. Tidak salah jika banyak wisatawan yang mendatangi spot ini. Baik dengan kendaraan roda duanya atau menyewa kendaraan 4x4.
Namun, kali ini saya akan sedikit menjelajah ke timur yakni menuju padang savana. Spot ini terkenal dengan istilah bukit teletubies. Memang begitu mirip, hamparan rumput timbih susbur menutup perbukitan. Setiap pergantian musim, pada savana ini memang memiliki pemandangan yang berbeda. Kebetulan kali bertepatan dengan musim penghujan. Sehingga vegetasi yang tumbuh lebih beragam.

Senin, 08 Desember 2014

Antara gili trawangan dan gili labak

Wisata pantai masih tetap menarik wisatawan untuk berkunjung. Akhir tahun ini saya berkesampatan berkunjung ke dua pulau dengan pantainya yang indah. Pertama adalah gili labak di sumenep madura. Selanjutnya saya menginjakkan kaki ke pulau di utara pulau lombok,  yakni gili trawangan. Keduanya memang menyimpan pesona wisata pantai yang menarik.

Siapa tidak tahu tentang gili trawangan, bahkan wisatawan asing justru lebih mengenalnya. Gili trawangan sendiri adalah salah satu dari gugusan pulau yang berada di Kabupaten Lombok Utara. Pulau ini setiap harinya menjadi jujukan wisatawan asing. Fasilitas wisata yang dimiliki pulau ini tidak kalah dengan mall kota besar. Belasan cafe berkelas serta hotel dibangun di pulau utara pulau lombok ini.

Wisatawan tidak perlu kesulitan saat akan berkunjung, pemerintah setempat telah menfasilitasi transportasi. Bahkan telah ada akomodasi kapal cepat langsung dari pulau bali. Jelas hal ini merupakan paket wisata yang sangat menarik bagi wisatawan asing.

Tidak seperti gili trawangan, gili labak yang berada di sumenep baru -baru ini saja menjadi pembicaraan. Mungkin, popularitas pulau yang juga dikenal dengan nama pulau tikua ini adalah karena derasnya kutipan di berbagai media sosial. Gili Labak memang masih asri, potensinya masih belum digali. Penduduk pulau juga masih belum begitu antusias akan kedatangan wisatawan. Hal ini ditandai dengan tidak adanya fasilitas penunjang seperti penginapan atau sekedar kafe.

Selasa, 18 November 2014

Geliat fotografi

Kurun waktu 5 tahun terakhir perkembangan fotografi berkembang sangat pesat. Kamera dan sejenisnya begitu mudah dimiliki. Akhirnya, genre fotografi merupakan hal yang jamak. Tua muda dari berbagai lapisan mempunyai hobi yang sama, yakni fotografi.

Tidak luput dari perkembangan fotografi sebagai imbasnya adalah maraknya penyelenggaraan event fotografi. Di madura sudah terlihat sejak setahun terakhir ini. Banyak komunitas fotografi menggelar event fotografi dengan berbagai tema.

Minggu 16 november kemarin saya menghadiri salah satu eventbyang diselenggarakan di sebuah cafe di kota bangkalan.

Rabu, 12 November 2014

Menyambut pagi di Gili Labak

Bermalam di Gili Labak bisa dilalui dengan lancar. Jauh berbeda dengan bayangan awal saya yang mengira jika angin laut akan bertiup kencang. Malam itu hanya da angin semilir serta deru suara ombak laut yang terdengar dari dalam tenda.
Pagi dimulai lebih cepat di pulau timur pulau Madura ini. Meskipun masih menunjukkan pukul 04.00 wib, langit sudah mulai berganti warna menjadi lebih terang. Di ufuk timur gradasi warna mulai tampak dengan dominasi warna kuning kemrahan. Namun, di langit sisi barat bulan masih enggan pergi dan tetap memancarkan cahayanya. Langit menjadi kebiruan di sisi barat, air laut juga memantulkan cahaya bulan.
Perlahan matahari muncul membelah laut yang sedang surut. Cahaya fajar memantul dari langit. Begitu jernih langit pagi tanpa polusi udara. Sebuah pemandangan yang luar biasa.
Tidak lama, ketika matahari mulai utuh tampak, aktifitas penduduk juga dimulai. Banyak yang berjibaku mengurus perahunya, adapula yang berangkat menelusur pantai yang surut.
Saya memilih berkeliling pulau sembari melihat matahari terbit dari berbagai sisi pulau. Ternyata, dari setiap sisi pulau terbitnya matahari tetap bisa dinikmati dengan indah.
Siang menjelang saatnya mencoba snorkling menikmati keindahan terumbu karang.

Selasa, 11 November 2014

Gili labak ikon wisata baru Madura

Begitu mendapat ijin dari RT setempat Kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Sebenarnya oleh ketua RT telah diberi pilihan lokasi uang biasa digunakan wisatawan lain untuk m3ndirikan tensa. Salah satunya adalah sisi pulau bagian timur. Akhirnya kami memilih lokasi ini. Barang-barang bawaan lalu ditunkan dari dalam perahu yang berlabuh di bibir pantai.
Pulau gili labak dikelilingi oleh pantai pasir putih diseluruh pulau. Cukup butuh waktu 30 menit untuk berkeliling pulau. Kapal hanya dilabuhkan di sisi barat dan timur pulau. Di sisi inilah terdapat gerbang masuk perkampungan. Hal ini ditandai dengan adanya rumah penduduk sebagai penyambut. Dirumah penduduk lokal ini juga dijual berbagai kebutuhan seperti makanan dan minuman dalam kemasan. Harga yang dijual juga relatif sama dengan harga di daratan. Saya mencoba membeli sebotol minuman bersoda ukuran kecil seharga Rp 4000.
Tenda selesai didirikan di bagian imur pulau. Selanjutkan saatnya mempersiapkan makanan yang telah dibawa. Senja menjelan malam, suasana pulau begitu gelap. Tampak hanya lampu dari pulau seberang, pulau talango yang cukup jelas terlihat. Sebenarnya, penduduk gili labak telah menggunakan listrik bersumber dari tenaga surya. selain listrik dari panel tenaga surya, generator listrik juga dipakai penduduk.
Menjelang malam selepas magribh, ternyata bulan sudah muncul. Kunjungan ke pulau ini bertepatan dengan masa bulan penuh. Suasana malam tidak lagi gelap berkat terpaan cahaya bulan yang begitu terang. Seluruh pulau dapat terlihat secara samar.

Senin, 10 November 2014

Gili Labak Primadona Baru wisata Madura

   Pelan namun pasti, nama Gili Labak akan menjadi objek wisata favorit di Madura . Sebuah pulau kecil yang hanya seluas tiga kali lapangan sepak bola ini telah membius banyak wisatawan. Pemandangan alam yang masih asri khas pulau tropis menyambut kedatangan wistawan. Pulau yang berada di selatan Sumenep ini juga menawarkan eksotisme gugusan terumbu karang yang masih alami. Awal November ini saya berkesempatan mengunjungi pulau yang sedang menjadi perbincangan di dunia media sosial ini.
   Meskipun sudah cukup ramai dikunjungi wisatawan, namun belum ada fasilitas layanan informasi yang memadai. Wisatawan hanya bisa mendapatkan informasi dari blog milik wisatawan yang telah berkunjung. Selain kurangnya informasi resmi, calon pengunjung juga akan kesulitan saat mencari transportasi menuju ke pulau berpasir putih ini. Hanya terdapat beberapa agen wisata yang memang menyediakan layanan wisata ke pulau kecil ini
  Beruntung bagi saya dan rombongan sebanyak 9 orang. Salah satu dari kami ternyata memiliki rekan di Sumenep yang bisa mengusahakan perahu untuk dipakai mengantar kami. Saya dan rombongan sengaja ingin menginap di pulau yang masih asri ini. Tujuan kami menginap adalah ingin meninkmati suasana matahari terbenam dan matahari terbit.
   Berangkat dari pelabuhan kalianget, setidaknya butuh 2 jam perjalan untuk sampai ke lokasi. Alat transportasi yang kami gunakan adalah perahu kayu dengan kapasitas 20 orang. Awalnya saya merasa takut. Disarankan untuk berangkat menyebrang saat pagi hari. Pasalnya saat pagi hari cuaca dan ombak censerung tenan. Terlebih bisa melihat aktifitas nelayan ketika menangkap
   Menginjakkan kaki di pulau ini, tidak terlihat seperti layaknya tempat wisata. Hanya tampak beberapa rumah nelayan yang sepi. Hanya beberapa penduduk yang terlihat. Kesan pertama adalah melihat hamparan pasir putih yang begitu putih. Pantulan cahaya matahari sore seakan menambah keindahan pantai. Di pantai ini juga dijadikan pelabuhan tradisional perahu milik nelayan.
   Salah satu blog yang saya kunjungi sebagai referensi memang menyebutkan jika air laut pulau gili labak begitu jernih. Bahkan di blog lain menyebut jika perahu seakan melayang karena kejernihan air lautnya. Memang, bukan isapan jempol. Di atas perahu saya melihat dasar pantai, airnya begitu jernih.
     Sangat disayangkan jika belum ada dermaga yang layak. Perahu milik nelayan atau pengunjung dengan bebas berlabuh di bibir pantai. Jangkar diturunkan sembarangan. Saya merasa jangkar ini bisa merusak terumbu karang yang ada. Rugi jika terumbu karang di pulau ini rusak karena tertimpa jangkar perahu.
     Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari lokasi untuk mendirikan tenda.
  

Minggu, 09 November 2014

Stasiun Pasar Turi

Stasiun Pasar Turi merupakan sebuah stasiun yang berdampingan dengan pusat perbelanjaan. Stasiun kereta ini merupakan stasiun yang melayani rute kereta jalur utara jawa. Salah satu stasiun terbesar di Surabaya selain stasiun Gubeng. Beberapa bangunan stasiunnya masih terlihat bangunan lama khas kolonial. Di area stasiun ini juga terdapat depo perawatan kereta api milik PT KAI.
Saya berkesempatan mengabadikan beberapa sudut dari stasiun yang bangunannya berhimpit dengan Pusat Grosir Surabaya ini.

rebirth

Selamat malam, hampir 2 tahun ini saya jarang berinterak si dengan blog saya, baik sekedar melihat postingan saya atau menerb...